Naskah Kuno Suku Sasak: Tradisi
Nyeput
Halo
kawan – kawan, bagaimana kabar Anda? Semoga selalu dalah keadaan sehat ya.
Melanjutkan
apa yang telah saya tulis sebelumnya di laman blog ini. Kali ini saya akan
mencoba memberikan pengetahuan tentang salah satu tradisi dalam pembacaan
naskah kuno suku Sasak. Tradisi tersebut lazim dikenal dengan istilah nyeput. Nyeput atau seput ialah sebuah tradisi turun temurun yang masih terus dijaga
oleh masyarkat suku sasak dalam pembelajaran dan pembacaan (nembang) naskah
kuno suku Sasak. Tradisi ini sangat menarik bagi saya, hingga saya memutuskan
untuk mencari langsung budayawan yang mengerti dan masih melestarikan tradisi nyeput ini.
Ahad,
10 November 2019. Saya bersama tiga orang teman saya berangkat menuju dusun
Ameng, Desa Bangket Parak, Kecamatan Pujut,Lombok Tengah. Berdasarkan cerita
dari bebrapa kawan,di tempat tersebut masih terdapat kelompok budayawan yang
masih eksis menjaga tradisi nyeput. Terik
matahari dan hamparan sawah luah nan kering menemani perjalanan kami hari itu.
Pukul 11.30 WITA kami tiba di kediaman budayawan yang saya maksud. Namanya,
Mujahidun Nafis. Kami diterima dengan hangat di sana. Bahkan, yang menemani
kami bkan hanya satu orang budayawan, tapi empat orang sekaligus,
ditambahseorang pemuda yang dating jugauntuk berguru ke sana. Tiga orang lain
yang saya maksud adalah Amaq Parne yang merupakan ayahanda dari Mujahidun
Nafis, dan dua orang lain lagi sering mereka sapa dengan sebuatan datoq dan syeh.
Kami
dipersilakan duduk di sebuah berugak di halaman rumah beliau. Setelahnya, saya
menjelaskan ihwal tujuan kami bersilaturrahmi ke pondok beliau. Kami ingin diperkenalkan
dengan tradisi nyeput. Beliau
menyambut baik niatan kami. Akan tetapi, sebelum ritual nyeput dilaksanakan, kami dijelaskan panjang-lebar terkait tradisi
dan budaya dalam tubuh suku Sasak. Mulai dari sejarah para wali yang terdapat
di suku Sasak. Sejarah masuknya islam di suku Sasak. Nilai – nilai
filosofis-religius dalam setiap tradisi maupun budaya suku Sasak. Serta tertang
takepan atau naskah kuno suku Sasak.
Oh iya, mengapa dalam setiap naskah kuno
suku Sasak tidak pernah ditemukan nama atau pembuatnya? Menurut keterangan
beliau, hal ini disebabkan niat tulus dari hati yang paling dalam oleh leluhur
suku Sasak yang ingin menyampaikan ilmu tanpa dikenal. Agar terhindar dari dosa
– dosa yang sekiranya berpotensi untuk muncul jika mencantumkan nama. Sungguh
mulia leluhur suku Sasak. Masih ada bebrapa cerita kebudayaan lain yang
beliausampaikan kepada kami. Beliau juga menyampaikan bahwa beliau mempunya
sebuah paguyuban yang bernama paguyuban pujibakti yang bertujuan menggali
khazanah peninggalan sasak terutama lontar.
Setelah
bercerita selama hampir satu jam, kami sampai pada apa yang menjadi tujuan utama
kami, nyeput. Beliau mengeluarkan
naskah yang beliau sebut dengan naskah labangkare.
Naskah labangkare ini sebetulnya
merupakan simbol nama seseorang, tetapi ini juga merupakan akronim dari lambing perkare (labangkare). Oh iya,
sebelum saya menceritakan ihwal hasil nyeput
saya. Saya akan menjelaskan terlebihdahulu apa sebenarnya tradisi nyeput itu. Nyeput atau seput sejatinya
berarti menjemput. Menjemput dalam artian mencari jalan pintas untuk mengatahui
takdir Allah kepada insan manusia.
Proses
awal nyeput dimulai dengan
menyediakan semacam andang-andang sebagi
syarat. Ketika kami nyeput, andang – andang tersebut berisi beras yang melambangkan
daging, benang yang melambangkan urat, sirih melambangkan sum – sum, dan telur
yang melambangkan bumi. Setiap tempat barangkali syaratnya bisa berbeda – beda
tergantung permintaan budayawan.
Ketika
nyeput akan dimulai, biasanya
penyeput (orang yang ingin nyeput) akan diminta membaca syahadat dan surah
Al-Ikhlas 3x dan memantapkan niat yang dibawa dalam nyeput. Setelah itu, akan diminta untuk memagang ikatan dari
takepan menggunakan tangan kiri, lalu memilih secara acak dari lembaran yang
terdapat dalam takepan atau naskah. Lembaran yang dipilih secara acak kemudian
akan dibacakan atau ditembangkan. Lalu budayawan yang lain akan menjelaskan isi
dan makna dari tembang. Menurut kepercayaan masyrakat suku Sasak, lembaran yang
dipilih penyeput merupakan gambaran masa depan tentang apa yang diniatkan
ketika hendak nyeput.
Mengkaji Hasil Nyeput Menggunakan Pendekatan Semiotika
Pendekatan
semiotik memandang segala sesuatu dalam karya sastra sebagai suatu sistem
tanda. Melihat unsure – unsure yang ada sebagai simbol. Simbol - simbol
tersebut dideskripsikan berdasarkan konteksnya. Kemudian dilakukan klasifikasi
maknanya. Asumsi tentang pendekatan semiotik ini adalah merupakan sebuah teori
yang relevan pembedahannya untuk karya sastra. Di manadi sana terdapat bahasa
simbolik yang pemknaannya hanya bisadipahami dan dibedah oleh teori ini. Bukan
hanya itu, semiotic juga mencerminkan bahsa karya sastra yang estetis, sistematis, dan memiliki pluralitas
makna ketika dibaca.
Saya
lanjutkan, di antara teman – teman saya, saya menjadi orang pertama yang nyeput. Perasaan sedikit takut
menghantui. Tangan saya pun gemetar ketika memegang tali dan memilih secara
acak lemabaran dalam takepan, tapi saya bismillah-kan.
Satu lembar takepan dalam naskah lontar telah saya pilih. Selanjutnya, Pak
Nafis menembangkan naskah tersebut diselingi pembacaan makna oleh Amaq Parwe
dan Syeh secara beriringan dan kadang bergantian. Pak Nafis juga menyampaikan bahwa lembaran naskah yang saya dapatkan ditembangkan dengan tembang Asmarandana yang menunjukkan keceriaan. Isi dari nyeput yang saya lakukan secara umum baik untuk apa yang saya niatkan.
Dalam
lembaran yang saya pilih, terdapat simbol permata. Permata ini seprti yang
dikatakan Syeh merupakan sesuatu atau wujud dari apa yang saya niatkan.
Dikatakan Syeh, permata dalam ihwal yang saya niatkan sejatinya sudah saya
dapatkan dan sudah saya genggam. Akan tetapi, masih ada beberapa proses lagi
yang harus saya lewati. Daalm lembaran yang saya pilih juga dijelaskan bahwa
“telah sampai di Desa Wanasari. Seadainya desa tersebut memiliki semacam
pembatas atau tembok, kita sudah sampai di dalamnya”. Hal ini diartikan sebagai
apa yang saya jalani sekarang sebetulnya cocok dengan apa yang saya niatkan,
tetapi sekali lagi masih ada perjalanan yang harus saya tempuh untuk mewujudkan
niat itu. Alhamdulillah dan bismillah.
Sekali
lagi, tetaplah ini sebagai sebuah budaya ddan tradisi. Ihlwal mempercayai
maupun tidak itu adalah hak setiap pribadi. Untuk Anda yang pernah dan
barangkali akan melakukan ritual nyeput. Jika
hasilnya baik, tetaplah bersemangat dan jadikan motivasi, jagan terlena dan
lengah lalu melupakan ikhtiar. Jika hasilnya tidak terlalu baik, jadikan sebuah
pemeblajaran dan jangan hentikan usaha, apalagi doa.




