Selasa, 22 Oktober 2019

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak lupa akan sejarah bangsanya sendiri," begitu kira - kira ungkapan Soekarno sang proklamator Indonesia.

Budaya nasionalisme dalam tubuh bangsa Indonesia semakin hari makin terkikis. Nasionalisme sebagai salah satu nilai yang dapat mencerminkan kepribadian bangsa seolah makin tak mempunyai harga diri di bangsa ini. Kenyataan barangkali merupakan fenomena yang seharusnya disikapi dengan serius oleh setiap masyarakat. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam rangka melegitimasi kembali budaya nasionalisme itu, salah satunya adalah dengan mempelajari budaya.

Sebagai mahasiswa, penulis mempunyai tanggung jawab moral, sosial maupun kultural dalam rangka mempelajari dan melestarikan budaya, terutama budaya daerah tempat penulis tinggal. Dengan kenyataan semacam ini membuat hati penulis tergerak untuk menyelami kebudayaan daerah tempat penulis tinggal. Salah satu media atau elemen yang dapat penulis jadikan pembelajaran sejarah adalah dengan mempelajari naskah kuno dan pusaka (benda peninggalan nenek moyang). Menurut pengetahuan penulis, daerah tempat penulis tinggal yaitu, Pulau Lombok sangat kaya akan peninggalan naskah kuno dan benda _ benda pusaka yang masih dijaga dan dirawat oleh orang - orang tertentu yang diberikan amanah untuk menjaganya. Kenyataan ini membuat penulis tidak susah mencari dan menemukan naskah kuno dan pusaka tersebut.

Ahad, 20 Oktober 2019 penulis bersama tiga orang teman penulis di sore hari berangkat menuju rumah Pak Ikin. Nama Pak Ikin pertama kali penulis dengar dari seorang sahabat yang menyatakan bahwa beliau adalah orang yang tepat untuk kami cari. "Pak Ikin punya takepan dan pusaka," ujarnya melalui sebuah pesan singkat sehari sebelum kami berangkat. Namun tempat pasti rumah Pak Ikin kami belum tahu. Menurut informasi, kami hanya diinformasikan bahwa rumah Pak Ikin ada di daerah Abiantubuh, Mataram. Sesampai di dekat Masjid Al-Amin Abiantubuh, kami masuk ke lingkungan Karang Parwa yang menurut kami dekat dengan rumah Pak Ikin. setelah di sana, sebetulnya kami tidak susah menemukan rumah Pak Ikin, karena setiap warga yang saya tenya ihwal di mana rumah Pak Ikin, mereka semua mengetahui dan Pak Ikin memang sangat terkennal di lingkungan itu. Beliau adalah tokoh masyarakat di sana.

Singkat cerita kami sampai di rumah Pak Ikin. Beliau bersama keluarganya sangat ramah dan mempersilakan kami untuk masuk. Selanjutnya, kami memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud dan tujuan kami datang ke sana. Pak Ikin mengerti dan memahami apa yang kami cari. Setelah Pak Ikin mengtahui maksud kami, Pak Ikin mulai bercerita. Mulai dari silsilah keluarganya yang beliau sendiri merupakan keturunan dari kerajaan Pejanggik yang ada di Lombok beberapa abad silam. Pak Ikin juga menjelaskan bagaimana pemahaman dan pengetahuannya tentang ritual adat yang ada di Lombok seperti prosesi perkawinan orang suku Sasak, Lombok. Menurut Pak Ikin adat istiadat yang ada di Lombok sangat sarat akan nilai - nilai filosofis keagamaan atau religiusitas. Ritual adat yang ada, seringkali mencerminkan syariat - syariat agama, terutama agama silam. Beliau mencontohkan itu dalam ritual adat sorong serah dalam pernikahan yang dilakukan seebelum nyongkolan (baca: pernikahan adat sasak). Setelah bercerita panjang leebar terkait dengan kebudayaan orang sasak, Pak Ikin mulai masuk ke naskah kuno dan pusaka, sesuai yang kami cari.

Berdasarkan penjelasannya, Pak Ikin memaparkan bahwa dulu ia memang mempunyai beberapa takepan yang yang berisi naskah kuno yang merupakan peninggalan atau warisan nenek moyangnya. Akan tetapi beberapa takepan telah diambil oleh pasukan Belanda yang ada saat itu. Takepan itu diambil karena orang Belanda curiga terhadap isi takepan tersebut. Sisa dari takepan itu telah beliau serahkan kepada keluarganya yaitu, Mamiq Anggawe yang berasal dari Gerung, Lombok Barat. Akan tetapi, Pak Ikin sendiri masih mengingat beberapa isi dari naskah kuno yang pernah beliau baca. Secara umum, naskah - naskah tersebut berisi ajaran agama, petunjuk ritual keagamaan serta peristiwa - peristiwa zaman dahulu. Akan tetapi memang ingatan beliau terkait hal tersebut sudah sangat minim. Beliu juga menyarankan kepada kami jika ingin mengetahui ihwal naskah kuno sebaiknya pergi ke Sakre atau Mamiq Anggawe yang ada di Gerung Lombok Barat.

Pak Ikin mengatakan bahwa satu - satunya hal yang masih beliau simpan adalah benda pusaka (pusake). Benda pusaka itu berwujud seperti parang atau bateq dalam masyarakat suku Sasak. Akan tetapi, saat kami berkunjung ke sana, beliau tidak mengizinkan kami untuk melihatnya. Sebab berdasarkan amanah atau perintah dari orang tua beliau, usaka tersebut tidak boleh dikeluarkan kalau belum ada tanda - tanda atau petunjuk. Lebih jauh lagi, menurut beliau pusaka tersebut harus dikeluarkan pada saat perang dunia ke-3 nanti di akhir zaman. Hal itu yang masih terus beliau yakini, karena akan piuwal kepada orang tua jika melanggar perintah tersebut.

Begitu kira - kira perjalanan penulis mencari dan mempelajari naskah kuno serta pusaka yang ada di daerah Lombok. Ada beberapa energi posistif yang penulis dapatkan dari kegiatan ini bahwa mengkaji kebudayaan memiliki nilai kepuasan tersendiri di benak penulis. Oleh karena itu, penulis tidak akan berhenti sampai di sini. Penulis akan terus berusaha mencari dan mempelajari naskah - naskah kuno dan pusaka yang ada di Lombok.